Oleh: Febrian Fajar Limatuzein
Entah apa yang terjadi.. tiba-tiba aku pun terbangun.. Gelap, Sakit, dingin, sangat terasa di tubuhku terlebih juga rasa perih begitu menusuk di bagian lambung ku.. kutatap disekelilingku, samar-samar terlihat 3 orang tergeletak lemah tak berdaya.. “ada apa ini.. dimana aku” aku pun bertanya tanya, sembari mengingatkan atas kejadian apa yang menimpaku ini..
Dengan persaan cemas, kubangunkan salah seorang yang ada di sekelilingku itu, dia tak bergerak, hanya diam seolah tak bernyawa. Aku pun mencoba, membangunkan kembali orang yang lain.. yang berada di dekatku.. tapi tetap semuanya sudah tak bergerak. Aku baru menyadari , karna hanya cahaya bulan yang membantu pengelihatanku, ternyata di kepala 3 orang itu berceceran darah, dari tubuhnya pun semuanya terluka.., aku tak mengenalinya, “siapakah mereka”..lalu aku menghela nafas panjang lewat hidungku, tak terasa tetesan air mataku keluar melihat pemandangan yang mengharukan ini. Perlahan-lahan aku mencoba bangkit melihat keadaan, apa yang sebenarnya terjadi.. aku sama sekali tak ingat, hanya pusing dan perih saja yang terasa. Saat aku berdiri aku baru tau bahwa kakiku terluka parah, seperti terhantam batu yang tajam.
kulihat sekelilingku hanya gelap, samar, dan tak jelas.. “ aku tak mengenali tempat ini.. dimanakah aku?”
Aku memberanikan diri untuk mulai melangkah, ku ayun kakiku untuk mulai berjalan mencari cahaya yang terang. Karna badanku lemas, ahirnya aku terjatuh di langkah kedua, dan spontan badanku ambruk, aku tak mampu bergerak, tubuhku tergeletak lemas diatas tanah yang berhamburan sampah..
Suara gaduh membangunkan ku.. sinar matahari mulai mengusir daerah yang gelap.. perlahan-lahan aku pun membuka mataku.. samar-samar kudengar banyak orang yang berbicara.. namun aku tak kuat untuk bangun, hanya bisa tergeletak dan sulit bergerak hingga aku tak sadarkan diri.
“Rey kamu sudah bangun … syukurlah”
Itulah kata-kata yang pertama ku dengar saat aku bisa membuka mata kembali.. ternyata Indra, sodara dekat ku yang rumahnya tak jauh dari ku, hanya beda satu kecamatan saja.. ku tatapi sekeliling ruangan ini, terlihat jam dinding menunjukan pukul 9.00 pagi
“Dra aku dimana ni..”
“kita dirumah sakit, badan mu banyak yang luka.. istirahat saja dulu jangan banyak pikiran”.. jawab indra.
Aku pun tak banyak bicara, langsung makan makanan yang tersedia dan minum obat yang tersedia pula.. tak berlangsung lama, akhirnya aku tertidur.
Sekitar pukul 12.00 aku terbangun, karna terdengar banyak suara yang terdengar dari sekelilingku.. saat itu indra tidak nampak, yang ada adalah para tetanggaku yang mengalami nasib serupa dengan ku.. aku pun teringat kejadian semalam.. apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan rasa cemas.. kutanya salah seorang yang berdiri di samping tetanggaku yang tergeletak senasib dengan ku.. Jawabannya sungguh mengejutkan ku, ternyata kampungku tertimpa gunung yang berada disebrang yang ambruk karena gempa.. semunya hancur.. tertimbun tanah dan bebatuan.. aku memegang dadaku ku sendiri teringat istriku dan anaku yang baru berumur 3 tahun..
Dulu semenjak memulai keluarga, istriku pernah menolakku membangun rumah di tempat ini.. karna alasan berbahaya dan bisa dibilang kampung yang tidak aman, karena kampungku dekat dengan pegunungan yang rawan longsor.. tapi aku keras kepala, dengan alasan tanah yang murah, dan cerita dari orang kampungku bahwa belum terjadi apa-apa selama ini di kampung itu.. dengan semangat aku pun membangun rumah disana.. hingga akhirnya seperti ini.
Derita ini tak hanya aku yang merasakan, bahkan sebagian penghuni kampungku belum ditemukan karna tertimbun tanah.. mereka adalah penduduk asli tempat ini, yang turun temurun tinggal disana. Klo aku hanya pendatang yang baru 2 tahun tinggal di tempat ini. Aku sadar ini semua salahku, ini luka yang tertullis, luka yang direncanakan, menunggu untuk terluka.. jangan mentang-mentang murah aku menjaminkan nyawa keluargaku..
Tak terasa mataku ber’air lagi.. menyatu berbaur diruang ini dengan keharuan.. satu jam setelah itu istri dan anaku datang di jemput oleh indra.. Beribu-ribu rasa syukur ku ucapkan, karna malam tadi istri dan anaku sedang berkunjung ke tempat ibunya, jadi tidak ada dirumah, walaupun harta benda semua raib, tapi dengan kumpulnya keluarga, merupakan harta yang tak ternilai.